JOKO BILANG ...
Saya berpesan kepada anak dan isteri. Jika kelak "deadline usia" saya tiba... supaya mereka mengumumkan di wall Facebook, wall saya, saya bahwa saya sudah end...
Tuliskan status ini, “... bahwa suami atau ayah saya, saat ini sedang mempertanggungjawabkan seluruh kata, aksara, tanda baca yang selama ini ia gunakan di Facebook untuk menulis. Kepada yang lebih ‘Maha Mengawasi’ dibanding badan cyber manapun...”
Pasti ada yang tertawa. Ada lucunya, memang. Tak apa. Sangat dimaklumi. Namun sesekali lucu... juga perlu untuk keseimbangan diri.
Ini eulogy. Dan berharap, siapa tahu kelak tulisan yang terkompilasi di buku ini bisa menjadi jejak, ibarat "hall of fame" di dunia maya.
Bukan berarti kita harus melulu menulis “yang baik-baik” saja karena tahu bahwa diawasi oleh pengawas cyber maupun Sang Maha Pengawas Cyber... namun bagaimana agar selalu ada peran hati, sumbangsih nalar dan kompas keadilan ketika pena atau jempol kita bekerja.
Maka jika Benton & Bowles bilang, “It’s not creative unless it sell”, saya lebih memilih “It’s not creative unless it fair”. Kreatif itu tidak membohongi. Kreatif itu tidak membodohi. Kreatif itu tidak memfitnah. Kreatif itu maslahat, bukan mudharat. Kreatif itu adil. Terhadap siapapun. Terhadap yang berkuasa maupun yang tidak sedang berkuasa. Bahkan terhadap diri sendiri.
Saya pribadi percaya pada kekuatan huruf, aksara, tanda baca dan kata-kata. Ia bisa memuliakan, namun juga bisa meremukkan kita berkeping-keping. Kita bisa berenang bebas atau menyelam di lautan katakata. Namun juga bisa kelelep dalam pusaran air bah kalimat yang kita tulis sendiri.
Tak semua postingan di FB layak diterbitkan dalam bentuk cetak. Ada postingan yang ketika dibukukan... menjadi tidak kontekstual, tidak aktual. Ada peran linimasa di medsos yang membuat kata-kata mengejawantah, bertenaga... bahkan menyulut.
Isi buku ini adalah unggahan di dinding Facebook. Beberapa saya cuplik dari buku saya terdahulu, “Jalan Tikus” dan “Opera Indonesia”, keduanya sudah diterbitkan Gramedia.
Hormat saya untuk sahabat-sahabat hebat, yang telah berkenan menulis kata pengantar indah di buku ini. Dan Anda yang berkenan lambatlambat membaca buku ini dan merenungi pesannya.
Joko Santoso Handipaningrat
Pengamat Humaniora, Bukan Omnivora

Post a Comment
Post a Comment