Namun, berada di tengah kepungan informasi yang datang berjejaljejal itu, bukanlah tanpa persoalan. Jika dulu kita mengkhawatirkan kurangnya informasi, maka kini kita mengkhawatirkan tidak adanya pengetahuan di tengah jutaan informasi tersebut.
Informasi tidak dengan sendirinya menyampaikan pengetahuan. Ia mungkin berisi fakta, namun tidak otomatis membentuk pengetahuan. Itu sebabnya sejak jaman Yunani Antik, para filosof sudah membedakan antara mengetahui “the fact that” dengan “the reason why”. Persis di situlah distingsi antara “informasi” dengan “pengetahuan”.
Pengetahuan mengandaikan adanya nalar yang tertata. Jika fakta bisa diperoleh dari pengalaman, maka pengetahuan hanya bisa diperoleh melalui penalaran sistematis (ordered thinking). Hanya fakta-fakta atau informasi-informasi teruji saja yang bisa melahirkan pengertian dalam bentuk pengetahuan.
Kemampuan untuk mengolah informasi menjadi pengetahuan inilah yang menjadi karakteristik keterdidikan (educated). Menurut saya, Joko Santoso HP adalah seorang yang sangat terdidik. Dan itu tercermin dari beranda Facebooknya.
Di tangannya, beranda Facebook menjadi danau kata-kata yang memikat, dalam, dan penuh nilai. Bukan selokan dangkal yang sekadar mengalirkan ujub dan glorifikasi diri.
Ia tak berbagi informasi di dindingnya, tapi berbagi renungan. Tentang hidup, karir, politik, keluarga, dan soal-soal lainnya, yang disarikan dari pengalaman dan pengetahuannya.
Di tangannya, sebuah pengalaman kecil bisa diolah menjadi sebuah cerita yang bernilai. Mungkin ada banyak orang lain yang punya pengalaman, pengetahuan, dan kemampuan perenungan yang sama -- dan bahkan melampaui -- lelaki kelahiran Solo ini. Tapi, bedanya -- dan ini sekaligus menjadi keistimewaan yang mewah -- Joko Santoso HP sanggup memindahkan semua itu ke dalam tulisan-tulisan yang memikat dan runut. Hanya seseorang yang memiliki penalaran yang sistematis sanggup melakukannya.Di tengah teriknya padang pasir dunia digital, mampirlah ke beranda Facebook Joko Santoso HP. Niscaya Anda akan menemukan sebuah oase.
Tarli Nugroho
Peneliti IPS (Institute for Policy Studies), Staf Khusus Wakil Ketua DPR-RI
Post a Comment
Post a Comment