Meski cenderung perfeksionis, tak berarti ia perfect. Ia bahkan kadang-kadang moody jika tidak sreg dengan sesuatu. Namun ketika menjelaskan alasannya, selalu masuk akal. Meski kadang-kadang penyampaiannya melompat, namun pikirannya terstruktur.
Saya bersyukur karena terpilih sebagai salah seorang yang sering ia perlakukan sebagai sparring partnernya. Kami sering berdiskusi nyaris tanpa jarak. Sebelum saya lahir, ia mengimpikan: “semoga kelak bisa ngobrol bertukar pikiran dengan anak”. Saya bahagia menjadi bagian dari impiannya yang terwujud. Itu sebabnya mengapa ia memanggil saya: “friend”.
Hal yang akan saya kenang selamanya adalah bahwa ia sering mengatakan, “Kamu tidak harus sama dengan Bapak. Jadilah dirimu sendiri”. I do. Proud of U, Dad.
Ethos Naendro
Post a Comment
Post a Comment